Selasa, 20 September 2011
Penyakit Otak Yang Langka Namun Mematikan: Meningoencephalitis Amebic Primer
Meningoencephalitis Amebic Primer (MAP) adalah penyakit yang diakibatkan oleh amuba Naegleria fowleri yang menyerang otak. Penyakit ini jarang namun langka dengan rasio kematian sekitar 95%. Penyakit ini berkembang sangat cepat dan tidak memiliki gejala yang khas. Maka dari itu sangatlah penting untuk mengetahui tentang penyakit ini agar bisa dihindari.
Penyebab
Penyebab penyakit ini yaitu N. fowleri adalah amuba yang hidup bebas yang bersifat pathogen oppurtunistic (Bisa menjadi patogen atau merusak tubuh). Amuba ini hidup di air dengan suhu hangat (sekitar 25-44oC) dan biasanya ditemukan pada musim panas. Amuba ini tidak dapat hidup di laut atau air yang mengandung garam lebih dari 0,5%. Amuba ini memiliki 3 siklus hidup, yaitu kista, flagela, dan tripozoid.
Fase tropozoid adalah fase vegetatif dan fase membelah diri. Dalam fase ini N. fowleri dapat berkembang dengan cepat pada suhu 42oC. Dalam fase inilah N. fowleri dapat menyebabkan MAP. Dalam fase ini n. fowleri berbentuk lonjong dengan nukleusnya dikelilingin semacam lingkaran. Amuba ini menjadi fase tropozoid dalam keadaan lingkungan seperti suhu dan makanan yang optimal. Dalam fase ini amuba dapat menembus membran mukosa hidung.
Pada fase flagelata amuba ini dapat berenang dengan cepat di air dan dapat berenang masuk dan menempel pada mukosa hidung manusia. Fase flagelata berbentuk seperti buah pir dan memilki lebih dari satu flagela. Fase ini terbentuk saat sumber makanan berkurang.
Fase kista adalah fase yang resisten dimana dalam fase ini amuba dapat bertahan hidup pada keadaan yang jelek. Dalam fase ini amuba dapat hidup di daerah kering dan dapat bertahan hidup di suhu yang dingin. Amuba ini menjadi bentuk kista jika keadaan lingkungannya menjadi tidak bagus lagi. Dalam fase ini amuba berbentu bulat kecil. Dalam fase ini amuba akan terbawa debu atau terhanyut ait hujan hingga mencapai lingkungan yang bagus dimana amuba ini akan kembali menjadi flagelata.
Perjalanan Penyakit
N. fowleri masuk ke tubuh manusia melalui hidung biasanya saat manusia berenang atau menyelam di air yang terkontaminasi, atau bisa juga saat manusia mencuci muka dengan air yang terkontaminasi, dan ada juga yang menghirup debu yang ditempeli oleh kista amuba ini. N. fowleri lalu menempel dan menembus mukosa hidung manusia dan bergerak melalui nervus olkaftorius menuju ke ciribiforme plate dan menuju olfactory bulb di bagian otak depan. Disana N. fowleri lalu berkembang dengan cepat dan merusak otak. Proses ini berlangsung sangat cepat dalam hitungan hari. Kematian biasanya pada minggu ke 2 karena gagal nafas akibat rusaknya batang otak yang mengendalikan pernafasan.
Diagnosis
MAP tidal memilki gejala khas sehingga sulit untuk dideteksi. Gejala-gejalanya seperti kaku kuduk, rasa mual, muntah-muntah, mata berkunang-kunang, dan sakit kepala, lalu koma dan menjurus ke kematian. Jika ditemukan gejala serupa dan pasien punya riwayat berenang maka MAP patut dicurigai.
Diagnosis PAM dilakukan dengan metode kultur pada cairan cerebrospinal dimana pada pasien PAM akan ditemukannya N. fowleri. Dari CSF juga akan ditemukan ribuan hingga 25.000 leukosit per μl, dimana 50-100% nya adalah neutrophil. Kebanyakan dari diagnosis pasti PAM dilakukan saat autopsi karena preoses penyakitnya sangat cepat menyebabkan sulit untuk penangan klinik.
Pengobatan
Jika mengalami gejala diatas setelah berenang sebaiknya segera periksa ke dokter. Penyakit ini biasanya ditangani dengan pemberian Ampotericin B yang diberikan bersama dengan fluconazole dan ripamficin.
Penyebab
Penyebab penyakit ini yaitu N. fowleri adalah amuba yang hidup bebas yang bersifat pathogen oppurtunistic (Bisa menjadi patogen atau merusak tubuh). Amuba ini hidup di air dengan suhu hangat (sekitar 25-44oC) dan biasanya ditemukan pada musim panas. Amuba ini tidak dapat hidup di laut atau air yang mengandung garam lebih dari 0,5%. Amuba ini memiliki 3 siklus hidup, yaitu kista, flagela, dan tripozoid.
Fase tropozoid adalah fase vegetatif dan fase membelah diri. Dalam fase ini N. fowleri dapat berkembang dengan cepat pada suhu 42oC. Dalam fase inilah N. fowleri dapat menyebabkan MAP. Dalam fase ini n. fowleri berbentuk lonjong dengan nukleusnya dikelilingin semacam lingkaran. Amuba ini menjadi fase tropozoid dalam keadaan lingkungan seperti suhu dan makanan yang optimal. Dalam fase ini amuba dapat menembus membran mukosa hidung.
Pada fase flagelata amuba ini dapat berenang dengan cepat di air dan dapat berenang masuk dan menempel pada mukosa hidung manusia. Fase flagelata berbentuk seperti buah pir dan memilki lebih dari satu flagela. Fase ini terbentuk saat sumber makanan berkurang.
Fase kista adalah fase yang resisten dimana dalam fase ini amuba dapat bertahan hidup pada keadaan yang jelek. Dalam fase ini amuba dapat hidup di daerah kering dan dapat bertahan hidup di suhu yang dingin. Amuba ini menjadi bentuk kista jika keadaan lingkungannya menjadi tidak bagus lagi. Dalam fase ini amuba berbentu bulat kecil. Dalam fase ini amuba akan terbawa debu atau terhanyut ait hujan hingga mencapai lingkungan yang bagus dimana amuba ini akan kembali menjadi flagelata.
Perjalanan Penyakit
N. fowleri masuk ke tubuh manusia melalui hidung biasanya saat manusia berenang atau menyelam di air yang terkontaminasi, atau bisa juga saat manusia mencuci muka dengan air yang terkontaminasi, dan ada juga yang menghirup debu yang ditempeli oleh kista amuba ini. N. fowleri lalu menempel dan menembus mukosa hidung manusia dan bergerak melalui nervus olkaftorius menuju ke ciribiforme plate dan menuju olfactory bulb di bagian otak depan. Disana N. fowleri lalu berkembang dengan cepat dan merusak otak. Proses ini berlangsung sangat cepat dalam hitungan hari. Kematian biasanya pada minggu ke 2 karena gagal nafas akibat rusaknya batang otak yang mengendalikan pernafasan.
Diagnosis
MAP tidal memilki gejala khas sehingga sulit untuk dideteksi. Gejala-gejalanya seperti kaku kuduk, rasa mual, muntah-muntah, mata berkunang-kunang, dan sakit kepala, lalu koma dan menjurus ke kematian. Jika ditemukan gejala serupa dan pasien punya riwayat berenang maka MAP patut dicurigai.
Diagnosis PAM dilakukan dengan metode kultur pada cairan cerebrospinal dimana pada pasien PAM akan ditemukannya N. fowleri. Dari CSF juga akan ditemukan ribuan hingga 25.000 leukosit per μl, dimana 50-100% nya adalah neutrophil. Kebanyakan dari diagnosis pasti PAM dilakukan saat autopsi karena preoses penyakitnya sangat cepat menyebabkan sulit untuk penangan klinik.
Pengobatan
Jika mengalami gejala diatas setelah berenang sebaiknya segera periksa ke dokter. Penyakit ini biasanya ditangani dengan pemberian Ampotericin B yang diberikan bersama dengan fluconazole dan ripamficin.
Langganan:
Posting Komentar
(Atom)

0 comments:
Posting Komentar