Pernah membayangkan kemana kira-kira sampah-sampah yang anda buang dibawa oleh truck-truck dinas kebersihan? Tentunya ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir), tapi bagaimana selanjutnya? Apa yang terjadi TPA? malah mungkin anda masih mencoba membayangkan seperti apa TPA itu. Dalam kesempatan kali ini saya akan coba bahas tentang salah satu TPA di Bali yang terletak di dusun Temesi kabupaten Gianyar
Dalam perjalanan saya menuju TKP yang terlintas dibenak saya adalah "Dengan akses jalan sesempit ini pasti TPA ini tidak begitu besar dan biasanya TPA kecil mungkin akan tidak terawat". Tapi setelah melihat langsung saya sangat takjub melihat betapa rapi nya TPA tersebut walaupun tidak begitu besar. Saat saya dan rombongan datang pertama-tama kami disambut disebuah ruang aula yang cukup besar. Di ruang tersebut banyak ada media-media tentang kebersihan dan kesehatan lingkungan seperti miniatur, mading, dll yang terlihat sangat menarik. Ruang aula tersebut katanya dipergunakan untuk penyuluhan tentang kesehatan dan kebersihan lingkungan kepada masyarakat dan siswa sekolah yang biasa berkunjung.
 |
| Yang pakai kacamata itu Dosen saya |
|

TPA ini memiliki luas sekitar 4 hektar dan mampu mengolah sekitar 40-50 ton sampah perharinya. Sampah pertama dipilah terlebih dahulu oleh pemilah sampah yang kemudian di proses. Sampah akan diolah dengan proses aerobik dimana sampah disriam dengan air dan diberi udara dengan blower setiap hari. Sampah juga dibalik dengan alat excavator setiap minggunya. Sampah yang telah menjadi kompos kemudian di jual. Kompos yang dihasilkan ada dua, yaitu kompos mentah dan matang. kompos mentah masih berbahaya untuk digunakan karena masih mengandung zat-zat berbahaya, maak itu kompos diproses menjadi kompos matang. 1 Tonn sampah yang diproses dapat menghasilkan sekitar 200 - 250 kg pupuk. Pupuk kemudain dijual dengan harga Rp 15.000 per kantong (20kg) dan juga dalam bentuk cair seharga Rp 25.000 per botol. Sisa sampah yang tidak bisa di daur ulang akan dibakar setelah sebelumnya dipisahkan dari benda-benda yang berbahaya jika dibakar. Jumlah sampah yang dibakar sekitar 10%. Pekerja yang bekerja di TPA ini beberapa orang lokal dan sebagian lagi di-import dari Jawa dengan kontrak.

Dari segi kesehatan kerja sebenarnya dari pengelola telah menentukan standar keamanan kerja, namun masih sering dilanggar oleh pekerjanya dengaan alasan tidak nyaman dan malah membuat sulit bekerja. Dari hasil pengamatan saya pribadi memang banyak pekerja yang tidak memakai pelindung, saya hanya sempat melihat 2 orang yang memakai masker, dan sama sekali tidak melihat ada yang memakai sarung tangan, ada juga pekerja yang tidak memakai sepatu boots dan hanya mengenakan sandal. Yang sangat disayangkan sepertinya para pekerja masih kurang peduli dengan higenisitas mereka, saya sempat melihat pekerja pemilah sampah yang memilah sampah tanpa mengenakan sarung tangan kemudian beberapa saat kemudian dia berjongkok istirahat sambil memakan camilan tanpa terlebih dahulu mencuci tangan. Kecelakaan kerja yang biasanya terjadi misalnya seperti kaki pekerja tertusuk sampah tajam seperti bekas katik sate. Biasanya pekerja akan dibawa ke puskesmas, dan jika cukup parah maka akan langsung dirujuk ke rumah sakit yang jarakmya tidak begitu jauh. Selain itu banyak pekerja membawa anak mereka yang ikut membantu bekerrja, padahal ini sangat tidak baik bagi kesehatan anak dan sudah dilarang oleh pengelola namun masih saja tetap dilanggar dengan alasan untuk mencari tambahan penghasilan dari pada ditinggal sendirian di rumahnya.

Saya juga sempat melihat sekilas bangunan yang ditinggali para pekerja. Sangat memprihatinkan bagi saya, bangunan hanya terbuat dari bedeg dimana banyak terdapat celah kecil yang dapat dilalui angin dan tanpa ventilasi dan sinar matahari yang cukup. Sekilas saya intip dari luar ruangannya sangat gelap, saya tidak berani masuk lebih dalam karena takut tidak sopan. Saya juga melihat di ujung bahkan terlihat ada seperti kantin di ujung bangunan. Di sana juga saya temukan media hiburan seperti TV dan speaker yang sepertinya disambungkan ke radio. Untuk kamar mandi dan WC saya lihat cukup bagus dan bersih, malah ada yang sangat bagus sampai salah satu teman saya yang nge-kost bilang kalau toiletnya lebih bagus dari di kost-kost'an nya.

Salah seorang pekerja disana sempat saya wawancarai, beliau berasal dari Jawa dan telah bekerja disana sejak tahun 1994. Menurut wawancara beliau tidak pernah memakai masker karena tidak merasa terganggu dengan bau. Untuk memasak sehari-hari telah disediaakn dapur oleh pengelola dan kata beliau bila ada yang sakit biasanya dibawa ke puskesmas dan biaya ditanggung pengelola. Untuk menjaga staminanya beliau menyebutkan seminggu sekali meminum jamu dan campuran telur dan minuman yang dibelinya di warung dekat sana.
Saya dan rombongan saya disana tidak lama-lama, hanya sekitar 2 jam dan sempat mengambil beberapa foto juga sebagai dokumentrasi pribadi. Saya kira TPA ini cukup mnaju, bahkan punya
website sendiri
TPA ini benar-benar sebuah TPA, selain Tempat Pembuangan Akhir juga sebagai Tempat Penitipan Anak. Disana disediakan ruangan khusus untuk anak-anak para pekerja yang oleh pengelola jika ada waktu luang merka diberikan pendidikan layaknya pre-school, walaupun masih agak sulit karena banyak yang memilih bekerja.
Dari pengamatan yang saya lakukan saya rasa TPA ini sudah cukup rapi kalau saya bandingkan dengan TPA-TPA lain, saya sangat terkesan dengan sampah yang terorganisir antara sampah baru, smapah yang sedang diolah, dan yang sudah menjadi kompos. Juga melihat bangunan yang rapi, bahkan memiliki kebun. Hanya saja yang saya prihatinkan adalah para pekerja, jika saja mereka memenuhi standar keselamatan kerja serta tidak membaw anak-naka mereka untuk ikut bekerja atau paling tidak dititipkan di ruang khusus yang telah disediakan, maka mungkin kesehatan para pekerja bisa lebih meningkat. Juga dari pihak pengelola jika saja mau memperbaiki fasilitas akomodasi para pekerja, hal tersebut akan sangat meningkatkan status kesehatan mereka.
 |
| Saya dan Rombongan dari Fakultas Kedokteran Warmadewa |
| | | | | |
| Para pekerja di atas tumpukan sampah |
 |
| Pekerja Pemilah Sampah |
 |
| "Temesi Compost" cair |
0 comments:
Posting Komentar